Laman

Saturday, December 12, 2009

Catatan Tentang Hujan

Hujan badai yang turun dengan deras, aku yang duduk di samping jendela tempat tidur ibuku, mug teh panas mengepul yang bertengger di selasar jendela. Satu situasi yang membuatku benar-benar merasakan sini-kini. Saat dimana konsistensi detak jantung terasa berdenyut hingga mengguncang dudukku. Saat dimana leher ini merinding oleh rasa nyaman yang tidak dapat digambarkan. Saat dimana perut ini mulas oleh kupu-kupu kebahagiaan dan ketidak sabaran akan hal yang tidak pernah aku ketahui.

Sebesar angin yang menerpa jalanan terkadang menerbangkan hal-hal yang tidak masuk akal dapat diterbangkan oleh benda tak kasat mata itu. Uang logam, piring, ubi jajaan penjual bajigur, payung, tikus. Melayang dengan beban seadanya, natural, absurd. Terkadang hal ini sedikit menakutkan, tapi toh kupandangi juga. Ruang pandang semacam ini membuatku sadar, bahwa alam dapat mengelabui ilmu fisika yang secara terang-terangan mempelajari tentang sifat-sifatnya serta materi di dalamnya.

Nyaman sekali. Saat hujan beku meradang di luar jendela sedang aku bergelung di dalam kehangatan kamar orangtuaku. Aku dan hujan, hanya dibatasi selembar kaca tipis. Hanya beberapa milimeter mungkin jarak yang ada antara aku dan hujan di luar. Aku mengalahkan hujan. Dan ini terjadi ratusan kali. Madu. Entah kapan aku akan dikalahkan hujan, mungkin itu saat terakhir aku melihat hujan.

Aku sering menbayangkan, berapa makhluk di dunia ini yang senang melihat hujan seperti aku? Seribu? Serats ribu? Sejuta? Tidak penting memang bagi akalku, tetapi penting bagi jiwaku. Komunal sepertiku senang bertemu dengan seorang yang memiliki ketertarikan sama. Tapi satu hal yang aku tahu, oportunis tidak akan pernah menjadi penikmat hujan.

Tak pernah hatiku bertanya, kapan hujan akan berhenti? Tapi selalu hatiku bertanya, kapan hujan turun lagi? Bagiku, hujan seperti gula bagi semut, madu bagi lebah, dan wanita bagi Don Juan.

Selang beberapa saat ibuku pasti mengusirku dari kamarnya. Alasannya: 'nanti sprei ibu berantakan'. Bersungut-sungut biasanya aku meninggalkan kamarnya.

Sihir hujan tidak memerlukan banyak bahan untuk membuat penikmatnya terpukau. Hanya sedikit air dan angin, tidak perlu banyak-banyak.

NB: Aku tidak pernah suka hujan, ini adalah bad sector kecil dalam imajiku yang amat sangat mencintai hujan.

penulis: bimo.s.hutomo
ditulis pada 17 November 2009

No comments:

Post a Comment